Sering dipertentangkan dan dipahami secara salah kaprah. Padahal, jika dilakukan secara beriringan, efeknya bisa lebih menguntungkan.
Oleh: Dyah Pratitasari
Laporan Khusus Majalah NIRMALA, Maret 2012
Sepintas, rumah pengobatan yang terletak di bilangan Jati Asih, Bekasi, itu terlihat biasa saja. Luasnya tak lebih dari 100 meter persegi. Letaknya berimpitan dengan rumah penduduk dan toko. Yang membuatnya istimewa, sepanjang hari pengunjungnya terus mengalir.
Di sana jugalah, Pepeng (37 tahun, bukan nama sebenarnya), karyawan swasta di Jakarta, berobat. Sekitar dua bulan yang lalu, ia kena asam urat. “Saya ke klinik ini dan dibekam, langsung enakan. Sekarang, setiap hari saya juga rutin minum minyak zaitun dan jintan hitam”, tutur ayah satu anak, yang mengaku rutin dibekam dua kali dalam sebulan.
Bekam, herbal, dan rukyah, merupakan beberapa metode pengobatan thibbun nabawi yang sedang diminati. Klinik-kliniknya tumbuh subur bak cendawan di musim hujan. Produk-produk khas Tanah Suci seperti air zamzam, minyak zaitun, madu, kurma, dan jintan hitam juga laris manis di pasaran. Jenis pengobatan yang satu ini diminati karena berbagai alasan. Pepeng, misalnya, sangat yakin dengan keampuhan thibbun nabawi karena metode tersebut merupakan warisan Nabi SAW. “Sesuatu yang dicontohkan oleh utusan Tuhan pasti atas petunjukNya. Tidak mungkin salah”, tuturnya.
Sementara Meylisa (43 tahun), ibu rumah tangga yang berdomisili di Tangerang, menuturkan, berbekam adalah salah satu metode yang efektif baginya dalam menjaga kesehatan. “Kalau badan mulai meriang, leher kaku-kaku, dan dibekam, setelah itu langsung segar lagi”, ia menggambarkan.
Bisa dijelaskan secara ilmiah
Thibbun nabawi, artinya pengobatan yang bersumber dari ajaran Nabi Muhammad SAW. Tata caranya meliputi banyak hal, antara lain bekam, rukyah, serta memanfaatkan bahan-bahan alami seperti herbal, produk lebah, kurma, dan air zamzam.
- Bekam
Dunia medis mengenal hyperemia, sebuah istilah untuk menyebut sel darah yang telah tua, rusak, atau cacat. Sel darah yang rusak ini membuat darah menjadi kental, alirannya tidak lancar, membebani kerja organ, dan memicu bermacam-macam gangguan penyakit.
Bekam berperan mengeluarkan sel-sel darah merah rusak yang berhasil melarikan diri dari karantina limpa dan kembali ikut beredar ke seluruh tubuh. Mekanismenya dengan menyedot darah kotor tersebut melalui jalur meridian atau titik-titik akupuntur, antara lain yang terletak di leher, di antara kedua bahu, pangkal paha, dan bagian atas telapak kaki.
- Rukyah
Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW menyatakan bahwa setan bisa bersemayam di dalam aliran darah, mempengaruhi pikiran dan hati. Pengertian setan tersebut tidak hanya mengacu pada makhluk gaib, melainkan juga segala sesuatu yang dapat menimbulkan gangguan baik secara fisik, emosi atau mental, dan spiritual. Prinsip terapi rukyah bekerja mengusir “setan” dengan sarana doa, sambil memohon pertolongan dan perlindungan dari Tuhan.
Terlepas dari jenis keyakinan yang dianut, manfaat doa sebagai terapi sudah diakui secara medis. Doa yang dipanjatkan pada Tuhan, diiringi keyakinan sekaligus kepasrahan, terbukti memberdayakan aspek fisik, mental, sekaligus spiritual, secara bersamaan. “Koneksi diantara jiwa, hati, otak, dan seluruh sistem tubuh terbukti mampu meningkatkan sistem kekebalan, memperbaiki fungsi jantung, dan perubahan-perubahan psikhis yang lebih baik pada diri pasien”, jelas Wyatt, peneliti Pusat Kesehatan Universitas Mississippi, Amerika Serikat.
- Produk lebah
Lebah (An-Nahl) dikisahkan secara khusus dalam kitab suci Al Quran, karena hewan yang satu ini memang memiliki banyak keistimewaan. Lebah adalah hewan yang senang bekerja keras, sangat menjaga kebersihan, dan sangat selektif memilih makanan. Semua produk yang dihasilkan oleh lebah seperti madu, propolis, bee pollen, royal jelly kaya dengan zat nutrisi berupa asam amino, mineral, vitamin, karbohidrat, hormon, enzim, dan masih banyak lagi.
Khasiatnya juga sudah dibuktikan sejak ribuan tahun yang lalu. Penelitian demi penelitian membuktikan bahwa produk lebah mampu berperan sebagai antibiotik, antioksidan, antiradang, antijamur, antinyeri, melancarkan pencernaan, memperkuat imunitas, dan masih banyak lagi. Wajar, jika ia dimanfaatkan untuk mengobati macam-macam penyakit.
- Jintan hitam
Apa pun jenis penyakitnya, pada saat kita sedang sakit, itu karena sel-sel di dalam tubuh kita sedang lemah (bahkan rusak) sehingga tidak memiliki energi untuk bertahan atau beregenerasi. Kondisi ini, dalam istilah medis disebut mitochondria cytopathy. Berbagai penelitian menemukan, nigellone dalam jintan hitam berperan penting dalam mencegah dan mengatasi kondisi tersebut. Cara kerjanya antara lain dengan memperpanjang usia sel, menghambat peradangan tersembunyi yang terjadi di tingkat sel, dan menambah fleksibilitas diameter pori-pori sel sehingga nutrisi yang masuk bisa diserap dengan baik.
Aktivitas nigellone ini didukung oleh senyawa-senyawa lain. Minyak atsiri, misalnya, membantu melancarkan energi pencernaan. Asam lemak membantu mencegah peradangan. Saponin bekerja menciutkan lendir. Antosianin berperan sebagai antioksidan dan menghambat radikal bebas. Thymoquinone berperan mengaktifkan kelenjar thymus dan memproduksi antibodi. Sedangkan anthraquinone mengikat racun.
- Minyak zaitun
Pada tanggal 21 April 1997, sebanyak 16 pakar ilmu kedokteran tersohor dari berbagai negara di dunia berkumpul di Roma, Italia. Dalam pertemuan tersebut, mereka menegaskan bahwa minyak zaitun dapat melindungi tubuh dari ancaman hipertensi, kolesterol tinggi, diabetes, obesitas, dan serangan jantung.
Sumber lain mencatat, minyak zaitun juga berperan dalam mengoptimalkan fungsi kantung empedu, melancarkan pencernaan, meningkatkan proses regenerasi sel, mengatasi peradangan, serta mencegah pertumbuhan sel tumor dan kanker. Khasiatnya itu sangat dipengaruhi oleh senyawa aktif yang terkandung di dalamnya, berupa omega-9, omega-6, dan asam lemak jenuh.
- Kurma
Ibnu Abbas ra mengatakan, Nabi SAW menyukai jenis kurma terutama jenis kurma ajwa. Penulis buku Thibb An-Nabi, As Suyuthi, mengatakan bahwa kurma ajwa merupakan makanan istimewa yang bergizi lengkap. Dalam bukunya yang berjudul “Fisiologi, Anatomi, dan Morfologi Pohon Kurma”, Dr Jabbar An-Nu’aimi menyatakan bahwa kurma kaya dengan kandungan karbohidrat, protein, lemak, zat besi, tembaga, seng, belerang, magnesium, mangan, flavonoid, kalsium, potassium, sodium, klorin, vitamin (A, B1, B2, B7, C, D), serat, zat gula, dan masih banyak lagi.
Itu sebabnya, sejak dahulu kurma ajwa dimanfaatkan untuk mengatasi berbagai macam gejala penyakit. Contohnya antara lain mencegah anemia, menenangkan syaraf, membangkitkan stamina, mengatasi sembelit, mencegah radang usus, menambah produksi asi, menghaluskan kulit, dan menambah daya ingat. Yang perlu dicatat, apapun jenisnya, kurma biasanya mengandung zat gula yang relatif tinggi. Jadi jika pengidap diabetes ingin mengonsumsi kurma, lebih disarankan untuk memilih kurma Nagal yang citarasanya sedikit sepat dan pahit.
- Air Zamzam
Dalam penelitian yang dilakukan di sebuah laboratorium di Eropa, ditemukan bahwa kandungan air zamzam memang berbeda dengan sumur-sumur lain yang ada di sekitar Mekah. Air zamzam mengandung elemen-elemen sebanyak 2000 mg per liter, dimana kandungan yang terdapat pada air mineral alami lainnya tidak lebih dari 260 mg per liter. Selain itu, air zamzam mengandung kalsium, magnesium, dan fluoride yang lebih tinggi dibandingkan jenis air yang lain. Kalsium dan magnesium membuat air zamzam berkhasiat obat, sementara fluoride berperan memusnahkan kuman yang terdapat di dalamnya.
Sebuah hadis berkata, “Air zamzam berkhasiat sesuai niat orang yang meminumnya”. Masaru Emoto, peneliti dari Jepang telah membuktikan, molekul air dapat berubah menjadi bentuk yang indah ataupun buruk, bergantung pada niat dan kalimat yang diucapkan padanya. Berdasarkan temuan tersebut, kalangan ahli meyakini bahwa sesungguhnya air biasa pun dapat bermanfaat sebagai obat, jika disertai dengan keyakinan, niat dan doa.
Konsep holistik
Meskipun tata cara yang digunakan berbeda dengan kedokteran modern, thibbun nabawi bukanlah terapi alternatif. “Thibbun nabawi juga tidak hanya mencakup tata cara pengobatan, melainkan juga mencegah datangnya penyakit, menjaga kesehatan, dan meningkatkan kualitas kesehatan”, tutur Dr Brilliantono M. Soenarwo, SpOT, FICS, MD, PhD, ahli bedah tulang di Jakarta, yang menerapkan thibbun nabawi dengan tata cara kedokteran modern.
